Just Write : Roda kehidupan

Entah mitos atau fakta. lorong gelap selalu dicap sebagai tempat angker. Faktanya, belum sekalipun aku menjumpai 'sesuatu' yang sepeti mereka katakan.
sehari-hari menyusuri lorong itulah pekerjaanku. bau menyengat, udara pengap dan tak jarang aku menemukan sesuatu yang lain, yang kadang menggemparkan warga sekitar. Mayat.
Hidup dengan mencari rosokan lebih baik bagiku dari pada mereka pejabat berdasi. Pengepul uang rakyat. Aku bosan melihat isi berita, halaman depan koran, majalah-majalah terkadang bungkus nasipun menampilkan wajah para penjilat. muak dengan segala tipu daya.

Berbekal karung beras yang aku temukan di tempat pembuangan. Mengais sampah demi sesuap nasi. berjalan jauh sudah menjadi rutinitasku. Mengorek tempat sampah adalah sebuah kejutan jika aku menemukan barang yang masih layak pakai. "Pemulung dilarang masuk". tulisan seperti inilah yang kadang membuat kami, para pemulung teramat terkucilkan. Yah, isu pencurian, teror dan penculikan anak kerap menjadi pertimbangan bagi pemilik perumahan. padahal aku dan pemulung lain hanya mengais sisa mereka.

Pagi ini, aku memutuskan untuk mencari tempat baru. TPA yang biasanya kujadikan sumber kehidupan kini telah di gusur. Alasannya sederhana. pemilik lahan mengklaim sudah habis masa pinjaman dari pemerintah. 2 tahun sudah tak ada perpanjangan kontrak dari pemerintah. aku menyeringai. hatiku pilu lantaran melihat anakku yang masih kecil sakit-sakitan butuh biaya berobat tak sedikit.

Para pejabat yang menggemborkan jaminan kesehatan rakyat mana janjinya. Omong kosong. jangankan di jamin. bahkan di data pun kami tidak!. Terkadang nasib tak berpihak kepada kami. aku meringis.

Menjadi pemulung bukanlah keinginanku. pun orang lain juga akan berpikiran sama. Tapi kewajiban menjadikan aku harus mencari nafkah untuk keluarga. ah, masa lalu biarlah masa lalu. hanya penyesalan yang kini aku rasakan. Harta yang sedikit demi sedikit aku kumpulkan ketika muda. Bagai daun kering yang di lalap api. Semuanya hancur dan hilang secepat kilat. Bukan hanya hartaku yang raib, tapi juga karir, keluarga bahkan kolega yang dulu sering bersamaku dalam perusahan bisnis yang aku rintis, semuanya hancur. Aku tertipu.

Aku bahkan tak pernah berpikiran sampai jatuh serendah-rendahnya seperti ini. Yang lebih memilukan adalah ketika istri yang genap 5 tahun menemaniku telah meninggalkan kami. Dia shock setelah melihat semuanya lebur. Tak ada yang tersisa. Harta satu-satunya yang kini aku miliki adalah anakku. Namun butuh perjuangan keras agar harta itu tak diambil oleh sang Pemiliknya.

Komentar

Postingan Populer