Senja di Ujung Kota



Langit pagi ini Cerah. Di dominasi awan-awan yang berjalan beriringan. Pada musim penghujan begini, cuaca seperti ini jarang sekali di temui. kalaupun tidak hujan, pasti mendung. Setidaknya cuaca pagi ini mendukungku. Mendukung perjalananku selama 8 jam di kereta menuju ke kota Lumpia. Aku tersenyum mantap.

Sepanjang perjalanan, hamparan sawah paling mendominasi. tak sedikit pula pemukiman penduduk di pinggir lintasan kereta. mengingat bisingnya suara mesin kereta yang amat mengganggu. mungkin mereka sudah biasa sehari-harinya. Lamunanku menerawang jauh.

Kereta berhenti di stasiun Tawang. Untuk pertama kalinya kakiku melangkah mantap berpijak di tanah kota Atlas. Tak sedikit juga yang beranggapan bahwa kota ini tak jauh berbeda dengan ibu kota. terutama masalah penangan banjir. jangankan pada musim penghujan begini. musim kemarau saja terkadang ada kiriman air Rob menggenangi beberapa sudut kota semarang. tak luput, tempat yang aku pijak sekarang. ya, Stasiun Tawang. 

Tapi meskipun begitu, bukan berarti menyurutkan niatku untuk menjelajah menyusuri ke khasan kota ini. aku tersenyum bahagia.

Matahari semakin menampakkan sinar yang awalnya malu-malu. sudah 15 menit yang lalu terduduk di kursi tunggu. Namun orang yang kutunggu tak juga memperlihatkan batang hidungnya. 

tut...tut... seketika dikagetkan dengan suara nyaring yang berasal dari saku.
"hey, kamu kenapa belum nyampe sini. aku udah sampai dari tadi". tiba-tiba saja suara Andri nyelonong dengan nada setengah kesal.
"idih, ini orang kenapa ga salam dulu langsung aja maen protes. mbuk ya salam dulu gitu lho, Bang" suara diseberang protes balik.
"iye, iye... assalamualaikum neng Nanda. Neng lagi ngapa nih? sibuk?". 
"Waalaikumussalam..maaf, Bang. tadi neng lagi bantuin nganterin ibu ke pasar. jadi agak telat jemputnya". 
"owalah... anak yang berbakti nih, cepetan gih abang di jemput di stasiun. Udah kering keronta nih wajah abang". sambil mengusap wajah yang mulai di hinggapi debu berterbangan.
"hahaha.... nggak apa-apa bang. sekali-kali begitu. ntar kalau udah kering tinggal goreng". tertawa puas.
"yah, dikira opak. Kriuk-kriuk". setengah kesal, setengah tertawa. tanggung.
"iyaa.. tunggu ya, 1 jam lagi sabar khan nunggunya". tiba-tiba ide jahil merasuk.
"hah!! lama banget". Mulai cemas. wajahnya kusut seketika.
"nggak-nggak. becanda... palingan cuma 15 menit nyampe. oke, Please waiting me". sebentar. menutup telepon. di ambilnya kontak motor, lalu bergegas menuju tempat yang dibicarakan. Stasiun Tawang.
                                      
                                                       ***

Semarang merupakan ibu kota provinsi Jawa Tengah. Kota yang cukup besar dan sibuk dengan segala aktivitas. Kota ini cukup nyaman dan asri. mengingat nama lain kota semarang adalah Kota Atlas. Beberapa kali setibanya di stasiun tadi terdengar jelas bahasa jawa menjadi bahasa khas dikota ini.
"Le, saiki jam piro?". tiba-tiba ibu setengah baya dengan wajah bingung menanyakan sekarang jam berapa. karena Nanda pernah sedikit mengajariku dengan logat jawanya. sedikit aku cukup paham apa yang ibu itu tanyakan kepadaku.
"Jam 06.45 bu". jawabku singkat.
"Hmm... iki anakku kog urung mrene jemput  aku. tak bel yo ora diangkat". dengan menjinjing kedua tasnya, ibu itu mengeluh. ada sedikit rona kecewa karena anaknya terlambat menjemput.
Aku diam sambil mencerna sedikit memahami bahasa yang dijelaskan si ibu.
"mungkin kena macet atau apa kali bu". semoga jawaban ini dapat menenangkan sedikit kekecewaan di hati ibu itu.
"iso wae Le,". sesekali membetulkan kerudungnya yang diterpa angin semilir.
"ini saya juga lagi nunggu jemputan dari teman saya bu. Nggih mpun, nunggu bareng-bareng aja sama saya".
orang sama-sama menunggu ya kami akhirnya mulai berkenalan dan cerita.

Namanya bu Isma, Kalau di lihat dari perawakannya mungkin seumuran ibuku. tapi beliau cukup cekatan. Nyatanya menjinjing dua tas pun beliau masih mampu. Bu Isma cerita baru saja pulang dari rumah anaknya yang berada di Jakarta. Tujuannya kesana karena di undangan anaknya untuk acara syukuran membuka cabang usahanya. Disana anak laki-laki pertamanya telah bekerja cukup lama dan mapan. dia menjadi pengusaha di salah satu pengrajin meubel. Dan telah berkeluarga.

Awan semakin menampakkan warna birunya. tak terasa lima belas menit itu menjadi perkenalan yang cukup menarik. Anak perempuan bu Isma sudah sampai di stasiun untuk menjemputnya. Kami akhirnya berpisah dan beberapa kali bu Isma mempersilahkan untuk berkunjung ke rumahnya. Aku hanya mengangguk senang. Beginilah budaya jawa. yang banyak menjunjung etika dan santun meskipun kepada orang yang belum dikenalinya. Sumeh.

Panas semakin terasa. Andri mendongak lalu memicingkan mata. Udara mulai memanas. tapi Nanda juga belum memperlihatkan tanda-tanda dia muncul. kutengok jam tanganku menunjukkan angka jam 7 lebih 5 menit. Ku lihat layar ponselku, tapi tak ada pesan masuk. ku pencet sebelas angka, berharap diseberang sana ada jawaban. "mungkin dia masih di jalan". Batinku mulai resah.

Menunggu memang pekerjaan yang paling membosankan. ah, itu bukan pekerjaan. yang namanya pekerjaan itu melakukan sesuatu atau bergerak. lha ini, ga ada gerakan sama sekali. paling juga clingukan ke kanan-kiri. "Biasanya aku yang ditunggu, sekarang gantian aku yang menunggu". Dalam hati aku bersumpah, Andri akan berhenti membuat seseorang menungguinya.

akhirnya penantian ini berakhir. Jauh di sana Nanda muncul. Ah, anak itu masih sama seperti empat tahun yang lalu. Nanda adalah sahabat perempuan yang paling dekat denganku semasa SMP-SMA. Kami seperti kembar yang tak terpisahkan. sempat beberapa kali kami satu kelas. dan itu yang membuat kami masih deket sampai sekarang. walaupun jarak Semarang-Jakarta yang lumayan jauh. itu tak membuat kami putus kontak setelah masing-masing dari kita memutuskan kuliah di kota yang berbeda.

                                                    ***

to be continue...


Komentar

Postingan Populer