#Kamu (part 2)
Pagi ini berjalan seperti rutinitas biasanya. Bangun, sholat subuh, kemudian mandi dan bersiap mengais rejeki Tuhan. Terima kasih Tuhan, kuucapkan rasa syukur atas nikmat yang telah Kau anugerahkan kepadaku. Hingga sampai detik ini aku masih diberi kesempatan untuk menghirup udara, nafas kehidupan.
Jalanan lengang. Hari ini tepat 30 Desember 2014. Itu berarti besok merupakan hari yang banyak dinanti sebagian kaum muda untuk merayakan malam pergantian tahun baru. Aku terdiam. Entah sudah kulewati berapa kali malam pergantian tahun baru hanya berdiam dirumah. tapi toh itu tidak masalah untukku. tetap enjoy.
Ditempat kerja karena tidak banyak kerjaan yang cukup berarti. melihat-lihat isi beranda di dunia maya menjadi salah satu cara pengusir bosan. aku terdiam pada satu foto. sejenak membuat seluruh badanku menjadi panas-dingin, marah, kesal bercampur aduk menjadi satu. laki-laki itu yang semalam telah mengusikku dengan bayang wajahnya kini dia berfoto berdua dengan wanita lain. hatiku remuk-redam. kacau balau, galau begitulah kondisi hati saat itu.
Bagai Melayang diatas awan, tiba-tiba sayap yang kita kepakkan itu patah. kemudian jatuh menjulang ke tanah. sakit tak berperikan. aku benar-benar merasa berada di titik terendah dalam hidupku.
Tak terasa ada sesuatu yang hangat membasahi pipi. Aku menyeka bulir kristal di ujung mataku. luka hati kembali menganga. Tuhan, beginikah lagi kisah yang aku dambakan kembali kandas tak terbalas?. aku memelas.
Mungkin ini takdir yang harus aku jalani. aku terlalu berharap kepadanya. Harusnya aku bisa berpikir jernih. Secara logika kami terpisah dengan jarak ribuan kilometer. tapi bukankah cinta mengalahkan yang namanya jarak. dan cinta juga hanya menunggu waktu sampai kapan kita mampu bertahan dengan segala rintangan. tapi itu tidak bagimu. mungkin kau ribuan kali telah berpikir tentang ini semua. "aku bingung" itu adalah kata yang pernah kau kirimkan di chattingan beberapa waktu yang lalu. karena ada pilihan lain selain aku.
Beberapa hari telah terlewati sejak peristiwa itu. aku memilih menyendiri. kuhabiskan waktuku hanya dengan membaca beberapa buku yang sengaja aku beli untuk menemani malam pergantian tahun baru. demi mendapat ketenangan hati, kumatikan jaringan internet diponselku. aku hanya ingin menata hati. menerima kenyataan pahit dan menikmati segenap laraku.
Meski aku sakit, tapi aku tetap mendoakan kebahagian untukmu. bukankah bahagiamu adalah bahagiaku juga?. entah itu kalimat munafik dan tidak lebih sebagai penghibur hati yang sedang berduka.
Tuhan, aku titip dia. Dia yang aku kasihi kini bahagia bersama orang lain. Bahagiakan dia dengan segala kasih sayang yang Engkau punya. aku hanya bisa berdoa dan berharap suatu saat aku menemukan seseorang lain yang Engkau ciptakan sebagai penggantinya. Karena aku juga ingin bahagia seperti dirinya. Kita telah memilih jalan surga masing-masing. Karena aku tahu, engkau memberikan apa yang kami butuhkan. bukan apa yang kami inginkan.
Tidak ada sesuatu lain yang mampu menguatkan hati ini, jika bukan Engkau Sang Pemilik hati kami. Ada satu kalimat yang mungkin bisa jadi pegangan semua ketika cinta itu tak tersampaikan.
"If something is destined for you. Never in million years it will be for somebody else".
Aku lebih percaya akan takdir-Mu. dan aku akan sabar menunggu waktu itu.


Komentar
Posting Komentar