Cerpen :Detektif Kepo
Semakin hari aku
semakin merasakan keganjilan pada gerak-geriknya. Tidak seperti beberapa hari
yang lalu. Dia tampak sangat hati-hati dalam menyimpan sesuatu didalam kotak
coklat tua itu. Persis seperti tak ingin seorangpun tahu apa yang sedang
disimpannya.
Dikeluarga kami,
banyak yang tak sadar sikapnya telah berubah. Ketika aku coba menanyakan itu
kepada ibu, ibu hanya menjawab, “Mungkin hanya perasaanmu saja”. Memang benar
sih, karena baru aku yang peka. Suatu saat aku ingin membuktikan kepekaanku ini
terbukti.
Seperti biasa, pekerjaan
di kelurga kami selalu terbagi job description masing-masing. Ibu memasak, aku
membersihkan ruangan tamu dan sudut ruang rumah yang lain. Sedang kakakku
menyiram dan merawat pekarangan depan rumah. Ketika itulah dia selalu terlihat
aneh. Pagi itu adalah hari minggu, kami menjalankan tugas masing-masing. Ketika
aku membersihkan kaca diruang tamu. Dari sini aku melihat kakakku di ambang
pintu sedang melakukan perbincangan dengan seseorang. Entah siapa aku tak tahu.
Sepertinya orang yang diajak bicaranya terhalang oleh pintu gerbang rumah yang
terbuat dari kayu.
Setelah selesai
berbincang dengan seseorang. Gelagat aneh itulah yang selama ini mengusik
pikiranku. Mataku tertuju pada sebuah bungkusan
yang dibalut dengan kantong plastic hitam. Sepertinya itu pemberian dari orang
yang diajak bicara tadi. Yang membuat aneh adalah gelagatnya ketika masuk rumah
seperti seorang perampok yang akan menjarah rumah. Ia mengendap-endap
langkahnya. Dengan sangat hati-hati, ia masuk rumah dengan clingak-clinguk
kalau-kalau ada orang yang mengetahui dia. Apa sebenarnya isi bungkusan plastic
hitam itu? Aku semakin penasaran.
Setelah berhasil
masuk ke kamar. Terdengar suara kunci pintu yang diputarnya. Bagian aneh yang
kedua adalah ini. Dia jarang sekali mengunci pintu kamarnya. Kecuali jika dia
sedang kesal dan marah. Rasa penasaranku, menyuruku untuk menguping dibalik
pintu. Dari dalam terdengar suara gemerisik plastic, mungkin dia membuka
isinya. Ah, aku semakin penasaran. Lalu aku putuskan untuk mengetuk pintu
kamarnya. Belum sempat aku mengalunkan ketukan. Ibu sudah berada dibelakangku,
memperhatikan gelagatku yang menempelkan telinga dipintu.
“Ren, kamu
ngapain nempelin telinga dipintu gitu? Kamu nguping kakakmu? Ada siapa didalam?”. Suara ibu membuatku
tersentak kaget. Buru-buru aku menguasai situasi.
Kutarik ibu
menjauhi pintu kamar kakakku. Lalu kujelaskan sikap aneh yang dilakukan kakak
setiap minggu.
“Kakak itu
setiap minggu pasti dapet bungkusan dari orang, bu?” sedikit mengatur nafasku
yang tersengal-sengal. “ibu tadi lihat tidak, ada yang mampir depan pintu
gerbang rumah?”. Tanyaku selidik kepada ibu.
“Mana ibu tahu, kan ibu masak di dapur. Mungkin
paketan dari dia belanja online, atau titipan dari temannya mungkin. Eh kamu
kenapa curiga begitu?”. Gentian ibu yang merasa aneh kepadaku.
“kalau belanja
online, masa setiap minggu. Ini udah minggu ke empat dia menerima paketan
dengan jenis yang sama dan bentuk yang sama.” Kucoba jelaskan sedetail mungkin
tentang keresahanku tentang barang itu. Kami berdua saling pandang beberapa
menit. Lalu tanpa penjelasan ibu melangkah meninggalkanku dan menuju ke kamar
kakakku. Sekonyong-konyong aku mengikuti ibu dari belakang.
Diketuknya dua
kali kamar kakakku dan dengan menyebut namanya.
“Deny, buka
kamarnya. Ibu mau masuk.” Suara ibu terdengar lebih keras dari suara pertama
ketika mengetuk pintu.
Dari dalam
terdengar bunyi kunci pintu yang diputar “Cekrekk”
“Kenapa bu,
tumbunan ibu ke kamar Deny. Bukannya biasanya jam segini ibu masih di dapur?” kakakku
yang sedikit bingung melihat kedatangan ibu dan aku dikamarnya.
“Nggak, tadi ibu
mau ke warung sebentar. Mau beli bumbu dapur ada yang habis. Kamu enggak papa, kan?” tangan ibu
mengelus dan menempelkan telapak tangannya ke dahi kakakku.
“Eh, aku
baik-baik aja bu. kenapa nih, tiba-tiba nanya begitu?”
“Ini tadi ibu
lihat adikmu Reni sedang menguping kamu dipintu kamarmu. Ibu kira ngajak
temanmu. Kog pake dikunci segala pintunya.”
Kakakku ganti
melihatku. Aku tersenyum-senyum salah tingkah. “Rusak sudah penyelidikanku
selama ini.” Aku membatin.
“Ah, Reni itu
kepo bu. Pengen tahu urusan orang gedhe aja.” Kakakku sambil mengacak-acak
rambutku.
“Eh, tapi kak
Deny benerkan, menyembunyikan sesuatu yang tidak biasanya?. Aku lihat tadi pas
kakak lagi bersih-bersih dipekarangan kemudian menerima bungkusan plastic hitam
dari orang misterius.” Dengan tangan terlipat di dada, aku bak detektif yang
akan membongkar kasus misterius.
“Hahaha… ah,
dasar kutu buku. Ini pasti kebanyakan baca novel Sherlock Holmes nih.” Kakakku kembali
mengacak-acak rambutku lagi. Aku sedikit kesal dengan kakakku. Ibu hanya
tersenyum memandangi tingkah laku kedua anaknya.
Tetap saja
sebelum aku mengetahui apa sebenarnya isi bungkusan itu. Aku tetap tidak
tenang. Aku mencoba diam-diam masuk kamar kakakku. Kulihat setiap sudut kamar,
tapi aku tak menemukan apapun. Kecuali sebuah Kotak kayu berwarna coklat tua
yang lengkap dengan gemboknya. “mungkin barang itu disini”. Aku mencoba
menerka-nerka. Tapi tetap saja aku belum dapat jejak isi kotak itu.
“Atau aku
congkel saja kotak ini, tapi bukankah akan ketahuan kotak ini telah dibobol?” aku
mulai mencari cara. Biasanya dalam keadaan kepepet begini muncul ide yang
brilian. Tapi beberapa menit tak aku temukan sebuah idepun melintas diotakku.
Aku mengakhiri
saja penyelidikanku ini. Kasus ini terlalu rumit untukku.
Hari ini adalah
hari senin, aku sudah siap berpakaian seragam putih abu-abuku. Lalu kuturuni
tangga untuk menikmati sarapan kali ini. Oh, iya. Tadi malam ibu menayakan
pengen sarapan apa. Tidak biasanya ibu begitu. Tapi kujawab saja aku ingin nasi
goreng dan bekal untuk sekolah sandwich roti isi telur serta kentang goreng. Mumpung
ditawarin nih. Hehehe
Tapi alangkah
terkejutnya, sesampainya di meja makan. Tak ada orang. Sepi. Biasanya ibu
mondar-mandir nyiapin sarapan, kak Deny apalagi, dia selalu nomor satu kalau
disuruh makan.
Celingak-celinguk,
kesana kemari dan memanggil suara ibu juga tak ada jawaban. “Yah, sarapan
sendiri nih, mana asyik.” Aku menggumam ga jelas. Baru beberapa suap aku
memakan nasi goreng, tiba-tiba aku dikagetkan suara nyanyian dari seorang
perempuan dan laki-laki dari belakang. Lagu itu setiap tahun sekali aku
dinyanyikan.
“Happy Birthday
Reni, Happy Birthday Rani, Happy Birthday..Happy Birthday… Happy Birthday to
You.” Suara itu adalah suara ibu dan kak Deny dibelakangku.
Aku sedikit tersedak
nasi goreng yang kumakan. Antara senang dan terharu. Ini adalah moment special dalam
hidupku. Kenapa aku sampai lupa dengan hari ulang tahunku?. Betapa bodohnya
aku.
“Selamat ulang
tahun saying. Doa ibu selalu menyertaimu, Putriku.” Ciuman ibu mendarat di pipi
kanan-kiri dan dahiku. Kemudian pelukan hangat itu mengalir keseluruh darahku.
“Selamat ulang
tahun adik detektif yang gagal. Semoga tahun ini jadi detektifnya lulus dan
mampu memecahkan masalah. Dari pada kepo terus-terusan.” Suara kak Deny agak
menjengkelkan sebenarnya. Tapi aku aminin aja deh, bukankah itu yang kuinginkan
menjadi seperti Sherlock Holmes yang cerdik dan cerdas.
“Terimakasih ibu
dan kakakku tersayang. Aku bersyukur punya ibu dan kakak seperti kalian.” Aku
yang masih terharu tak tahu harus berkata apa. Perasaanku campur aduk.
“Etapi, aku kog
lupa ya kalau hari ini aku ultah”. Aku menyeringai
“yah, gimana ga
lupa. Orang kamu tiap hari ngepoin orang muluk.” Kembali diacak-acak lagi
rambutku oleh kak Deny.
“Nih hadiah buat
kamu.” Dengan menyodorkan sebuah kado yang terbungkus kembang-kembang. Diserahkannya
padaku.
“Isinya apa kak.”
Aku menyambar kado itu
“Bilang
terimakasih kek, main samba raja.” Suara kak Deny mendengus kesal.
“Iya, makasih
kak deny tersayang.” Tanpa melanjutkan pertanyaanku. Langsung saja aku buka isi
kado itu. Tak kusangka, isinya adalah jaket hitam dari kain woll, kaca
pembesar, topi koboi dan sebuah buku terbaru berjudul Sherlock Holmes. Aku terkejut
bukan kepalang.
“Itu adalah
benda-benda yang selama ini kamu teliti. Satu persatu paketan yang aku terima
tiap minggu. Karena nyari yang mirip barang-barang seperti Sherlock Holmes itu
nggak gampang. Makanya aku nitip ke beberapa teman. Suruh nyarikan yang
sekiranya mirip dengan barang-barang Sherlock Holmes. Dan ada beberapa yang
kucari lewat online. Sudah selesaikan penyelidikanmu?.” Kakakku tertawa penuh kemenangan.
Aku yang sedikit
kesal tak menanggapi tawa kakakku. Hmm…tapi inilah yang selama ini aku cari. Dengan
kostum seperti ini pasti aku akan menyelesaikan kasusku. Aku membatin penuh
dengan keyakinan.
Oh, Terimakasih
Tuhan. Ulang tahunku ke-17 ini benar-benar Sweet.
#SweetSevenTeen



keren juga y ceritanya, cerita klurga dibalut sedikit detektif. klo suka baca cerita detetif coba kunjungi kuasdanpena.blogspot.com
BalasHapus