Langit siang
ini agak begitu cerah jika dibandingkan dengan siang kemarin. Langkah kaki ini
mulai gontai. Lelah?? Jujur iya. Sudah hampir puluhan kilometer ku lalui, namun
tak kunjung kutemukan apa yang aku cari. Pesanan nenek yang tak kunjung
kutemukan dari hari ke hari membuatku hampir putus asa dengan semuanya. Ah,
nenek ada-ada saja permintaannya.
Digubuk
6mx7m ini, hanya itulah satu-satunya harta yang kami miliki. Entah dimanakah
orang tuaku berada, aku pun tak tahu. Hanya saja jika itu ku tanyakan kepada
nenek, pasti jawabannya selalu begitu, “Ayah dan ibumu pergi bekerja di luar negeri. Tak tahu sampai kapan
mereka akan pulang. Merekapun tak pernah memberi kabar”. Mungkin jika mereka
pulang, tak akan pernah mengenali siapa aku ini. Entahlah, dimanapun mereka
berada, doaku selalu terselip nama mereka berdua. Semoga Tuhan senantiasa
menjaga mereka berdua.
Jauh dari
perkampungan membuat hidup kami seperti terasingkan. Tak ada teman bergaul, tak
ada yang menyapa dan hanya suara alam yang selalu menjadi alunan musik khas
disekitar gubuk kami. Tapi, semua itu mengajarkan kami bagaimana cara
memanfaatkan alam yang telah disediakan oleh Tuhan. Ku syukuri karuniamu Tuhan.
Sudah lima
toko yang ku hampiri, namun tak ada satupun yang pas seperti yang nenek
inginkan. Jikalau nenek tidak sedang sakit, pastilah kucari alasan agar bisa
kutunda besok-besok saja. Sebenarnya aku tak tega meninggalkan nenek sendirian
di gubuk dengan kondisi sedang sakit.
Akhirnya,
setelah keliling di pasar desa sebelah.
Aku menemukan sepotong kain yang jika digambarkan persisi seperti yang
nenek inginkan. Kain jarik batik berwarna coklat keemasan yang begitu menawan.
Memang harganya sepadan dengan warna dan corak serta kualitas bahannya yang
menjadikan harganya mahal. Setelah aku coba tawar menawar, masih tetap saja
penjual tak menyerahkannya.
“Buk, saya
datang dari desa sebelah. Saya hanya membawa uang sebanyak yang saya punyai
ini. Ini semua hasil jerih payah kami berdua menabung sedikit demi
sedikit”. Aku hanya bisa pasrah. Setelah
apa yang aku cari aku dapatkan, ternyata harganya melampaui kemampuanku.
Setelah
beberapa saat, sang ibu mulai memperhatikan aku dari ujung rambut sampai ujung
kaki. Ibu penjual mulai mengiba kepadaku. “Mau kamu apakan dengan kain jarik
ini? Kamu masih terlalu kecil untuk memakai kain ini.” Lalu kuceritakan semua
perjuanganku untuk mendapatkan sepotong kain ini.
“Kasihan
sekali kamu, nak. Yasudah, ini ambilah. Uangmu bawalah kembali ke rumahmu. Kamu
bisa menyimpannya atau membelikan obat untuk nenekmu. Semoga nenekmu cepat
sembuh.” Seketika wajahku mulai sumringah. Ungkapan tak terkira yang jauh dari
bayanganku. Beribu ucapan terima kasih aku sampaikan kepada penjual itu. Kini
aku pulang dengan tangan menjinjing kantong plastik berisikan kain jarik
keinginan nenek. Hatiku senang bukan kepalang.
Langkahku
begitu cepat, rasa capek tak kurasakan seperti sebelumnya. Sepanjang jalan aku
bernyanyi-nyanyi seperti cicitan burung-burung pagi hari terbang kesana-kemari.
Aku berharap setelah mendapatkan ini, nenek bisa sehat seperti sediakala.
Setelah tinggal beberapa meter sampai ke gubuk, Aku lihat asap hitam pekat
dilangit senja. Perasaanku dilanda cemas luar biasa. "Semoga itu hanya
bakaran sampah". Batinku coba meredakan kecemasan. Namun, Malang tak dapat
ditolak. Asap hitam itu melemaskan semua otot-otot dalam tubuhku. Gubuk yang
aku tinggali itu kebakaran. Bukan karena kehilangan gubuk, bukankah di dalam
gubuk itu, nenek aku baringkan di dipan dekat pintu? Hatiku semakin ngilu membayangkan
apa yang terjadi.
“Neneeekkkk!!”
teriakku sekuat tenaga melihat kobaran api yang mulai membakar sekitarnya.
Tangisku pecah menyaksikan gubuk itu rata dan hangus dilalap si jago merah.
“Tuhan, masih hidupkah nenekku?. Lirihku dalam hati.
Bersambung.....
Komentar
Posting Komentar