Cerpen : Bagaimanapun juga, Mereka Surgaku (Part 1)


Langit siang ini agak begitu cerah jika dibandingkan dengan siang kemarin. Langkah kaki ini mulai gontai. Lelah?? Jujur iya. Sudah hampir puluhan kilometer ku lalui, namun tak kunjung kutemukan apa yang aku cari. Pesanan nenek yang tak kunjung kutemukan dari hari ke hari membuatku hampir putus asa dengan semuanya. Ah, nenek ada-ada saja permintaannya.
Digubuk 6mx7m ini, hanya itulah satu-satunya harta yang kami miliki. Entah dimanakah orang tuaku berada, aku pun tak tahu. Hanya saja jika itu ku tanyakan kepada nenek, pasti jawabannya selalu begitu, “Ayah dan ibumu pergi  bekerja di luar negeri. Tak tahu sampai kapan mereka akan pulang. Merekapun tak pernah memberi kabar”. Mungkin jika mereka pulang, tak akan pernah mengenali siapa aku ini. Entahlah, dimanapun mereka berada, doaku selalu terselip nama mereka berdua. Semoga Tuhan senantiasa menjaga mereka berdua.
Jauh dari perkampungan membuat hidup kami seperti terasingkan. Tak ada teman bergaul, tak ada yang menyapa dan hanya suara alam yang selalu menjadi alunan musik khas disekitar gubuk kami. Tapi, semua itu mengajarkan kami bagaimana cara memanfaatkan alam yang telah disediakan oleh Tuhan. Ku syukuri karuniamu Tuhan.
Sudah lima toko yang ku hampiri, namun tak ada satupun yang pas seperti yang nenek inginkan. Jikalau nenek tidak sedang sakit, pastilah kucari alasan agar bisa kutunda besok-besok saja. Sebenarnya aku tak tega meninggalkan nenek sendirian di gubuk dengan kondisi sedang sakit.
Akhirnya, setelah keliling di pasar desa sebelah.  Aku menemukan sepotong kain yang jika digambarkan persisi seperti yang nenek inginkan. Kain jarik batik berwarna coklat keemasan yang begitu menawan. Memang harganya sepadan dengan warna dan corak serta kualitas bahannya yang menjadikan harganya mahal. Setelah aku coba tawar menawar, masih tetap saja penjual tak menyerahkannya.
“Buk, saya datang dari desa sebelah. Saya hanya membawa uang sebanyak yang saya punyai ini. Ini semua hasil jerih payah kami berdua menabung sedikit demi sedikit”.  Aku hanya bisa pasrah. Setelah apa yang aku cari aku dapatkan, ternyata harganya melampaui kemampuanku.
Setelah beberapa saat, sang ibu mulai memperhatikan aku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ibu penjual mulai mengiba kepadaku. “Mau kamu apakan dengan kain jarik ini? Kamu masih terlalu kecil untuk memakai kain ini.” Lalu kuceritakan semua perjuanganku untuk mendapatkan sepotong kain ini.
“Kasihan sekali kamu, nak. Yasudah, ini ambilah. Uangmu bawalah kembali ke rumahmu. Kamu bisa menyimpannya atau membelikan obat untuk nenekmu. Semoga nenekmu cepat sembuh.” Seketika wajahku mulai sumringah. Ungkapan tak terkira yang jauh dari bayanganku. Beribu ucapan terima kasih aku sampaikan kepada penjual itu. Kini aku pulang dengan tangan menjinjing kantong plastik berisikan kain jarik keinginan nenek. Hatiku senang bukan kepalang.
Langkahku begitu cepat, rasa capek tak kurasakan seperti sebelumnya. Sepanjang jalan aku bernyanyi-nyanyi seperti cicitan burung-burung pagi hari terbang kesana-kemari. Aku berharap setelah mendapatkan ini, nenek bisa sehat seperti sediakala. Setelah tinggal beberapa meter sampai ke gubuk, Aku lihat asap hitam pekat dilangit senja. Perasaanku dilanda cemas luar biasa. "Semoga itu hanya bakaran sampah". Batinku coba meredakan kecemasan. Namun, Malang tak dapat ditolak. Asap hitam itu melemaskan semua otot-otot dalam tubuhku. Gubuk yang aku tinggali itu kebakaran. Bukan karena kehilangan gubuk, bukankah di dalam gubuk itu, nenek aku baringkan di dipan dekat pintu? Hatiku semakin ngilu membayangkan apa yang terjadi.
“Neneeekkkk!!” teriakku sekuat tenaga melihat kobaran api yang mulai membakar sekitarnya. Tangisku pecah menyaksikan gubuk itu rata dan hangus dilalap si jago merah. “Tuhan, masih hidupkah nenekku?. Lirihku dalam hati.


Bersambung.....

Komentar

Postingan Populer