Cerpen : Mbah Sarwo




"Braaaak". Kutemukan vas bungan di meja bundarku pecah. Ada apa ini? kataku dalam hati. Beberapa hari terakhir memang seperti ada yang aneh. Ah, semoga tak ada sesuatu yang buruk dan baik-baik saja.

Memang, sejak kepergian mbah Sarwo ada firasat-firasat yang sering terjadi disekitar desa kami. seperti masuknya hewan-hewan liar ke perkampungan kami. Entah itu ular, musang dan bahkan beberapa hari yang lalu ditemukan seekor anak buaya yang di hulu sungai yang tak jauh dari pemukiman penduduk. Peristiwa itu tak pernah terjadi selama mbah Sarwo masih hidup.

Berbeda memang ketika mbah Sarwo masih hidup. Ibaratnya mbah Sarwo adalah benteng di desa kami. dengan berbekal agama yang luas serta kebijaksanaan beliau. mbah Sarwo sangat disegani dan di hormati masyarakat di desa kami.

Memasuki usia 74 tahun, mbah Sarwo yang hidup sebangkara tak ingin berpangku tangan. Istri yang dicintainya telah berpulang ke rahmatullah terlebih dulu. berpuluh tahun menikah, tak kunjung mereka diberi keturunan. toh meski begitu, mbah Sarwo yakin Allah lebih mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya. Untuk menyambung hidup, mbah Sarwo bekerja sebagai pembuat batu bata. Baginya rejeki yang sedikit tapi berkah lebih baik dari pada memelas bantuan orang lain.
 "Manusia boleh berusaha sekuat tenaga mencari harta dan kekayaan. Namun jika Allah telah mencukupkan rejekimu sebagian. Maka cukuplah bagimu mendapat rejeki sebagian. Sebaik-baiknya rejeki adalah rejeki yang berkah". 

Meski bekerja, mbah Sarwo tak pernah sekalipun telat berjamaah. Selain bekerja seadaanya mbah Sarwo juga mengabdikan hidupnya dengan di Musholla. berkat keluasannya terhadap ilmu agama. mbah Sarwo dimandatkan sebagai imam di musholla kampung kami.

Beberapa hari terakhir tak terlihat mbah Sarwo. biasanya selepas pulang dari musholla mbah Sarwo menyapa beberapa para tetangga. memberikan senyuman. Senyum adalah sebagaian dari sedekah. begitulah yang sering ditanamkan dalam hidupnya. kabarnya mbah Sarwo sakit batuk dan demam sudah beberapa hari. Beberapa tetangga mengajaknya untuk periksa ke dokter. tapi ditolak alasannya biaya berobat mahal. "Sudah mbah, ngga usah dipikirkan biayanya. biar kami yang menanggungnya". ucap seorang tetangga mbah Sarwo. tapi mbah Sarwo tetap bersikukuh dia tak ingin merepotkan orang lain.

 Dua hari kemudian mbah Sarwo ditemukan pingsan dikamarnya. entah bagaimana jadinya jika dia tidak ditemukan Joni anak pak Karno yang terbiasa bermain dirumah mbah Sarwo. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan. Mbah Sarwo ternyata mengidap penyakit paru-paru basah. Yang lebih mengejutkan lagi dokter mengatakan sudah memasuki stadium 4. kemungkinan untuk sembuh kecil.

Seperti di tampar, para warga merasakan kesedihan yang begitu dalam. Imam di musholla mereka sedang  terkulai lemah diatas kasur pesakitan. Mbah Sarwo sempat sadarkan diri dan menanyakan keberadaannya sekarang. beberapa warga silih berganti berjaga di rumah sakit. demikian juga dengan dana yang diperlukan adalah hasil iuran sukarela dari warga atas rasa simpatinya kepada mbah Sarwo.

"maafkan orang tua ini nak. Sudah merepotkan kalian semua. terima kasih atas kebaikan kalian semua. mbah tidak bisa membalas dengan apa-apa. Semoga Allah yang akan mengganti kebaikan kalian semua". Suara mbah Sarwo bergetar. Beberapa warga ada yang sampai menitikkan air mata.

Itu adalah kata terakhir yang di ucapkan mbah Sarwo. Selang beberapa jam. mbah Sarwo telah kembali kepada sang Khaliq. Sang imam yang selalu jadi panutan kini kembali kepada-Nya.

Sepeninggalnya mbah Sarwo seperti pudarnya benteng pertahanan desa kami. desa yang dulu aman, nyaman, tenang. kini terusik dengan hal-hal lain. tapi kami yakin, meski mbah Sarwo telah tiada. Doa beliau selalu untuk desa kami.

Komentar

Postingan Populer