#Kamu (part 1)
Malam semakin larut. Udara malam pun terasa kian membuatku untuk menarik selimut hingga menutu seluruh tubuhku. Namun entah kenapa mata ini tak kunjung menandakan ingin segara menjelajah alam mimpi yang indah. ah, aku ini memikirkan apa sebenarnya?. PR? bukan. Aku sudah tak bersekolah meski terkadang ada beberapa orang yang mengira aku masih pantas mengenakan seragam putih abu-abu. Agak menyebalkan memang, tapi harusnya aku sedikit senang. Bukankah ejekan itu menandakan pujian secara tidak langsung bahwa aku masih imut meski aku sudah menyandang gelar Starta satu. aku terkekeh dalam lamunanku.
"ah, mata... aku minta kali ini kita berdamai saja, ini sudah kelewat tengah malam. Harusnya pada saat ini, aku sudah menikmati mimpi indahku". gumamku dalam hati. aku coba memainkan ponselku, sesekali aku buka beberapa jejaring sosial yang terinstall di layar hapeku. Jariku mulai menyentuh dan mengusap layar yang membisu itu. kuamati satu per satu BBM tapi tetap saja tak ada perubahan. Aku pikir semua orang yang ada di kontak BBM ku sudah tertidur pulas dan merangkai mimpi mereka masing-masing. kenapa aku tidak?
detik demi detik, menit demi menit dan dua jam telah berlalu. aku hanya meghabiskan begadangku dengan guling kanan-kiri. rasanya waktu begitu berlalu dengan cepat. terkahir aku melihat jam digital di layar ponselku menunjukkan pukul 23:49, sekarang sudah mulai menunjukkan 01:50.
Mataku mulai menerawang langit-langit kamar dan semakin jauh ketika imajinasiku melayang ke angkasa. Yang kudengar hanya suara alunan jarum jam yang tak akan pernah kembali lagi.
Lamunanku tertuju pada seseorang. Seseorang yang entah sejak kapan mulai mengusik hati dan memenuhi rongga pikiranku. "ah, mengapa harus dia Tuhan?". pertanyaan diatas bukan maksudku untuk memprotes kehendak Tuhan. ini hanya sebuah pertanyaan "mengapa" iya, mengapa harus dia.
Memang aku akui, akhir-akhir ini aku sering membawa dia dalam mimpiku. Ada yang mengatakan, kalau seseorang yang kita ingat kemudian terbawa sampai ke mimpi, berarti kamu merindukan dia. What?? Rindu?? aku mulai merindukannya Tuhan?? oh..tidak, aku tak ingin merindukannya. Tidak untuk saat ini, karena aku belum ingin membuka hatiku untuk siapapun setelah aku tutup rapat-rapat. entah sampai kapan, tapi tidak untuk saat ini.
hubungan yang sempat terjadi dulu membuatku sedikit trauma untuk memulai hubungan lagi. tapi aku tak bisa menyalahkan hubungan itu juga. toh pada waktu itu juga aku mempersilahkannya masuk ke kehidupanku. Yang selalu aku sesalkan adalah saat aku melakukan sesuatu yang jika teringat maka butiran kristal di ujung pipi akan meleleh. aku melakukan sesuatu yang sebenarnya menentang prinsip yang selama ini aku pegang erat-erat. jangankan sampai berciuman, pegangan tangan saja bagiku itu sudah melebihi batas yang aku gariskan.
Jatuh cinta itu memang sakit. namanya juga jatuh, pasti akan membekas luka entah itu hanya sebatas memar sampai tertusuk hingga ke relung yang paling dalam. tapi bukankah cinta itu suatu fitrah dari Tuhan. teramat suci jika kita rasakan dengan sentuhan hingga mampu menghilangkan makna cinta dan berubah menjadi nafsu semata. teramat indah jika kita tak mampu menjaganya dari segala kenistaan yang dilakukan dengan keburukan. aku sendiri tak mampu mendefiniskan apa itu makna cinta sebenarnya?. seketika otot di leher mulai menegang. aku pusing.
to be continue....


Komentar
Posting Komentar